Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 15 November 2015

AKULTURASI BUDAYA LOKAL, HINDU-BUDHA DAN ISLAM

Secara definitif akulturasi budaya memiliki pengertian yaitu percampuran dua budaya atau lebih yang melahirkan kebudayaan baru sedangkan unsur-unsur aslinya masih nampak. Akulturasi budaya yang terjadi di Indonesia memunculkan sesuatu yang unik dimana masyarakat Indonesia dalam menerima unsur-unsur budaya baru dari luar tidak langsung menerima mentah-mentah, namun dengan kecerdasan lokalnya (local genius) diselaraskan dengan unsur-unsur asli Nusantara. Hal ini disebabkan masyarakat di Nusantara telah memiliki perdaban yang tinggi sebelum unsur-unsur baru tersebut masuk. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa hal seperti Bangunan Masjid, Makam, Aksara dll.
1. Masjid

  • Bangunan Masjid. Bangunan masjid merupakan salah satu wujud budaya Islam yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Dalam sejarah Islam, masjid memiliki perkembangan yang beragam sesuai dengan daerah tempat berkembangnya. Di Indonesia, masjid mempunyai bentuk khusus yang merupakan perpaduan budaya Islam dengan budaya setempat. Bentuk masjid di Indonesia, terutama di pulau Jawa, bentuknya seperti pendopo (balai atau ruang besar tempat rapat) dengan komposisi ruang yang berbentuk persegi dan beratap tumpang. Cirri khusus bangunan masjid di Timur Tengah biasanya bagian atapnya berbentuk kubah, tetapi di Jawa diganti dengan atap tumpang dengan jumlah susunan bertingkat dua, tiga, dan lima.
  • Menara. Menara merupakan bangunan kelengkapan masjid yang dibangun menjulang tinggi dan berfungsi sebagai tempat menyerukan azan, yaitu tanda datangnya waktu shalat. Di Jawa terdapat bentuk menara yang dibuat seperti candi dengan susunan bata merah dan beratap tumpang, seperti menara masjid Kudus (Jawa Tengah).Selain itu, adanya kentongan atau bedug yang dibunyikan di masjid Indonesia sebagai pertanda masuknya waktu shalat. Hal itu juga menunjukkan adanya unsur Indonesia asli. Bedug atau kentongan tidak ditemukan pada masjid di Timur Tengah.
2. Makam
Pada makam Islam sering kita jumpai bangunan kijing atau jirat (bangunan makam yang terbuat dari tembok batu bata) yang kadang-kadang disertai bangunan rumah (cungkup) di atasnya. Dalam ajaran Islam tidak ada aturan tentang adanya kijing atau cungkup. Adanya bangunan tersebut merupakan ciri bangunan candi dalam ajaran Hindu-Budha. Tidak berbeda dengan candi, makam Islam, terutama makam para raja, biasanya dibuat dengan megah dan lengkap dengan keluarga dan para pengiringnya. Setiap keluarga dipisahkan oleh tembok dengan gapura (pintu gerbang) sebagai penghubungnya. Gapura itu belanggam seni zaman pra-Islam, misalnya ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi.

3.  Aksara
Akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam dalam hal aksara diwujudkan dengan berkembangnya tulisan Arab Melayu di Indonesia, yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menulis dalam bahasa Melayu. Tulisan Arab Melayu tidak menggunakan tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Tulisan Arab Melayu disebut dengan istilah Arab gundul. Selain itu untuk dalam bahasa Arab tidak ada bacaan "Ng, Ny, C, P" untuk menyikapi hal itu dengan kecerdasan lokal bangsa Indonesia membuat jalan keluar dengan mengimbuhkan titik tiga pada huruf-huruf seperti Ghain untuk Ng, Nun untuk Ny, Jim untuk C dan Fa untuk P.

4. Kalender
Wujud akulturasi budaya Indonesia dan Islam dalam sistem kalender dapat dilihat dengan berkembagnnya sistem kalender Jawa atau Tarikh Jawa. Sistem kalender tersebut diciptakan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1043 H atau 1643 M. Sebelum masuknya budaya Islam, masyarakat Jawa telah menggunakan kalender Saka yang dimulai tahun 78 M. Dalam kalender Jawa, nama bulan adalah Sura, Safar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Syawal, Zulkaidah, dan Besar. Nama harinya adalah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad yang dilengkapi hari pasaran, seperti Legi, Pahing, Pon, Wege, dan Kliwon. 

5. Seni
Wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dan islam pada seni rupa dapat dilihat pada ukiran bangunan makam.Pada masa Islam seni arca dan pematungan tidak berkembang, hal ini disebabkan kekhawatiran  akan adanya ritual pemujaan pada Arca atau Patung tersebut menyerupai berhala.oleh sebab itu seni arca tau pematungan dilihkan pada pembuatan kaligrafi dan stilir seperti Hiasan pada jirat (batu kubur) yang berupa susunan bingkai meniru bingkai candi. Pada dinding rumah, makam dan gapura terdapat corak dan hiasan yang mirip dengan corak dan hiasan yang terdapat pada Pura Ulu Watu dan Pura Sendang Duwur di Tuban (Jawa Timur). Salah satu cabang seni rupa yang berkembang pada awal penyebaran agama Islam di Indonesia adalah seni kaligrafi. Kaligrafi tersebut biasanya digunakan untuk menghias bangunan makam atau masjid. Wayang yang pada masa pra aksara digunakan untuk wahana memberikan nasehat dan pada masa Hindu-Budha digunakan sebagai sarana pengiring dalam sebuah ritual pemujaan terhadap Dewa-dewi pada masa Islam digunakan para Wali Songo untuk menyebarkan Agama Islam. Contohnya Sunan Kalijogo yang menggunakan Media wayang untuk memperkenalkan agama Islam ditengah-tenga masyarakat pesisir Jawa yang saat itu mayoritas Beragama Hindu-Budha.
 
 

Menjodohkan Nama Raja Terbesar Kerajaan Islam di Indonesia